Luka yang Tidak Diizinkan Untuk Sembuh
Dahulu, aku memandang kereta menjadi sebuah momentum kesedihan. Pertama kali aku harus pergi meninggalkan keluarga ku, aku menggunakan kereta. Perlahan menaiki anak tangga dan melaju. Melihat jadwal keberangkatan, nama kereta, dan kota tujuan. Setiap keberangkatannya, ada relung jiwa yang terasa hampa. Ada kerinduan yang terekam dan terenung secara tak sengaja. Satu tarikan dan hembusan nafas menjadi nada paksa akan penerimaan. Rasanya aku baru pergi tapi... menunggu hari untuk segera pulang kembali.
Seandainya aku tahu, perasaan tentang hal ini harus aku ulang setiap hari. Kereta bukan lagi menjadi satu momentum kerinduan, melainkan hidup ku, hari-hari ku adalah momentumnya. Aku kembali menggunakan kereta, tapi semuanya berubah. Ayah ku tak lagi menunggu ku. Masing-masing anggota keluarga dan setiap manusia yang ku kenal telah menggapai takdirnya masing-masing. Aku hanya terdiam menatap takdir ku seorang diri...
Aku tumbuh dewasa dan kereta menjadi alat kendaraan yang ku pandang sebelah mata. Aku beralih ke pesawat. Namun tak dapat lagi aku ceritakan tentang hamparan lautan awan yang indah. Aku pergi dan pulang, namun rasanya sama saja. Aku hampa disetiap momentumnya.
Seandainya manusia merasakan dan melihat sudut pandang ku... tidak, tidak akan pernah. Satu titik tertentu aku menyadari bahwa, hidup ku punya arti tersendiri. Pemilik takdir ini sengaja menaruh ku dalam cerita ini. Satu trauma besar yang terbentang luas mengisi kepala ku, aku pernah kehilangan, aku kesepian, aku menyalah kan diri ku, dan aku ditinggalkan. Semua itu cukup, untuk aku "menerima", bahwa aku sedang terluka. Luka dalam. Perih. Sakit. Namun, tak terlihat.
Permintaan maaf seperti lagu lama yang selalu ku putar ulang. Permintaan maaf bukan lagi perwakilan atas pengakuan kesalahan dan permohonan pengampunan. Maaf menjadi kata untuk mewakili diri yang takut untuk ditinggal pergi. Maaf menjadi kalimat favorit bagi diri atas ketidakcukupan diri sendiri.
Maaf...
maaf...
maaf...
bahwa aku tidak ingin tersakiti atas ekspetasi yang tak sesuai kejadian asli.
Kegelisahan atas kejujuran diri ini membuat aku sadar bahwa manusia akan mudah pergi dan tidak nyaman atas pengakuan diri. Hal itu membuat sadar bahwa, memang sebaiknya aku ditinggal pergi dan hidup sendiri.
Mentari yang sama menyapa disetiap paginya. Namun, mata memantulkan sinar yang berbeda. Ada kalanya air mata menghiasi pantulannya. Entah sedih karena luka, atau haru karena menerima. Kadang, bukan satu momentum yang membuat manusia sadar akan pembelajaran dan hikmahnya, tapi momentum yang datang berkali- kali. Hingga hati pintu hati ini rapuh dan terbuka perlahan untuk mengalirkan sentuhan kasih sayang dari semesta alam. Melihat hidup dengan cara yang berbeda. Melihat takdir hidup menjadi cahaya yang datang melalui harapan dan cinta yang telah lama terbenam.


Komentar
Posting Komentar