Jiwa-Jiwa yang Disiksa
Aku punya kesempatan untuk bahagia seumur hidup. Kesempatan itu adalah tentang memaafkan. Memaafkan manusia yang dengan sengaja membuat luka dalam, lalu pergi seakan tidak sengaja dan tidak merasa. Memaafkan situasi dan segala cerita yang katanya sudah ditakdirkan, garis kehidupan. Aku adalah rona kegelapan dalam kesendirian. Titik semu dari titik yang tak terhingga di luasnya bumi dan alam semesta. Cerita ku terlupakan, mata ku, nafas ku, ucapakan ku, hingga hati yang pernah tulus memberi. Memilih mati pun tidak akan peduli. Ini lah manusia. Pendusta handal, antara lisan, penampilan, hingga jiwa. Lisan ku memaafkan, tapi hati ku, selalu meminta keadilan. Keadilan atas jiwa-jiwa tersiksa selain diri sendiri. Jiwa-jiwa tersika dengan mulut yang dipaksa diam untuk bersua. Jiwa-jiwa tersiksa dengan 2 tangan menganga langit malam. Jiwa-jiwa tersiksa dengan air mata bak deras hujan. Jiwa-jiwa tersiksa dengan kegelisahan hati dan suara pikiran. Jiwa-jiwa tersiksa yang sengaj...

